Biak Biodiscovery 2026 Menelusuri Kekayaan Hayati Biak: Ketika Pengetahuan Lokal, Akademisi, dan TNI Bertemu di Hutan Papua

Biak, Papua — Di balik lebatnya hutan Pulau Biak, Papua, tersimpan kekayaan hayati yang tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan dan kehidupan masyarakat lokal. Tumbuhan yang tumbuh liar di dalam hutan dapat menjadi sumber pangan, obat-obatan, hingga bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Potensi tersebut menjadi salah satu alasan Pulau Biak dipilih sebagai lokasi penelitian Biodiversity dan Etnobotani 2026 oleh Yayasan Resiliensi Bulan Hijau bekerja sama dengan PMPR & PG MAHATVA Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Wanadri, dan Dayung Jelajah Nusantara. Penelitian ini melibatkan tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, satu dosen, serta dua peneliti dari Yayasan Resiliensi Bulan Hijau. Ekspedisi yang dirancang sejak April dan berlangsung hingga akhir 2026 tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan penelitian. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, pengetahuan lokal, konservasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuannya sederhana namun penting: mendokumentasikan keanekaragaman hayati sekaligus memahami bagaimana masyarakat lokal mengenali dan memanfaatkan tumbuhan di lingkungan mereka.

Ketika Hutan Menjadi Laboratorium

Perjalanan penelitian dimulai dari kawasan hutan di wilayah Biak Barat, Distrik Sopen. Di tempat inilah masyarakat menyambut kedatangan tim melalui Mansorandak, tradisi injak piring yang menjadi simbol penerimaan tamu ke dalam lingkungan masyarakat Biak. Di Kampung Kanaan, Distrik Sopen, Kepala Desa Yehezkiel Yembise bersama Kepala Adat Yohanes Maker menyambut tim dengan pesan yang menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Biak.  “Dong orang dalam satuan warga Biak, dong orang tra usah khawatir, dong orang katong pu sudara.” Masyarakat kemudian secara khusus menugaskan beberapa putra daerah—Matius, Yermias, Riski, dan Inyong—untuk mendampingi tim selama melakukan kegiatan penelitian. Pendampingan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam perjalanan. Bagi peneliti, hutan bukan sekadar hamparan vegetasi yang harus dicatat berdasarkan nama spesies. Hutan juga merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan mengenai cara manusia beradaptasi dan memanfaatkan sumber daya alam secara turun-temurun. Dalam perjalanan menuju bagian pedalaman hutan, tim menemukan berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan maupun obat-obatan. Salah satunya adalah tumbuhan yang dipercaya masyarakat dapat membantu menghentikan pendarahan akibat luka ketika berada di dalam hutan. Pengalaman tersebut bahkan terjadi secara langsung kepada salah satu peneliti, Egar, yang mengalami luka sayat ketika melakukan perjalanan. “Pakai pohon ini sa untuk hentikan darah abang, su pasti langsung henti dan tra sakit terasa,” ujar Matius sembari membantu mengobati luka tersebut. Peristiwa sederhana itu memperlihatkan satu hal penting: sebagian pengetahuan tentang hutan tidak selalu tersimpan di buku atau laboratorium. Ia hidup di tengah masyarakat dan diwariskan melalui pengalaman.

Dari Hutan Makmakerbo hingga Telaga Biru

Penelitian kemudian berlanjut ke kawasan Biak Timur, termasuk Hutan Makmakerbo dan Hutan Samares. Dengan pendampingan personel Pangkalan TNI Angkatan Laut Biak, tim melakukan pendataan keanekaragaman tumbuhan dari sisi timur hingga utara Pulau Biak. Perjalanan penelitian membawa tim semakin jauh memasuki bentang alam Biak. Jenis tumbuhan yang ditemukan sebagian besar merupakan jenis yang belum pernah ditemui oleh anggota tim selama melakukan penelitian di kawasan hutan Pulau Jawa. Keanekaragaman tersebut semakin terasa ketika suara burung terdengar dari balik pepohonan. Hujan yang turun di tengah perjalanan tidak menghentikan aktivitas penelitian. Tim terus bergerak menuju titik-titik pengamatan yang mengarah ke Telaga Wopersnondi, yang dikenal masyarakat sebagai Telaga Biru. Airnya yang jernih memungkinkan batang-batang pohon di dasar telaga terlihat dengan jelas. Bagi tim, perjalanan menuju Telaga Biru bukan hanya perjalanan menuju sebuah destinasi alam. Ia menjadi bagian dari proses memahami hubungan antara bentang alam, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Mangrove Biak dan Potensi Pangan Lokal

Selain kawasan hutan daratan, perhatian tim juga diarahkan pada ekosistem mangrove di Desa Ruar. Kawasan ini memiliki potensi mangrove yang besar dan dinilai penting untuk dikaji lebih jauh, khususnya dari perspektif etnobotani. Gagasan tersebut sejalan dengan arahan Panglima Komando Armada Republik Indonesia Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M., dalam audiensi dengan Tim Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 pada Juni 2026. Saat itu, potensi mangrove Pulau Biak didorong untuk tidak hanya dipandang dari sisi ekologis, tetapi juga dikaji kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber pangan tambahan bagi masyarakat sekitar.

Mangrove pada jenis tertentu memiliki potensi sebagai sumber pangan lokal apabila jenis, bagian tanaman, pengolahan, serta aspek keamanannya dikaji secara tepat. Karena itu, tim melakukan pendokumentasian serta pengambilan sampel beberapa jenis tumbuhan mangrove yang telah dimanfaatkan maupun berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat lokal sebagai pangan. Sampel tersebut selanjutnya akan dibawa ke laboratorium Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran untuk dilakukan karakterisasi dan pengujian kandungan nutrisinya. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi data ilmiah awal dalam mendukung pengembangan pangan lokal berbasis sumber daya pesisir. Lebih jauh, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi tidak harus selalu diposisikan berseberangan dengan pemanfaatan ekonomi. Dengan pengetahuan yang tepat, ekosistem mangrove dapat tetap dijaga sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Ketika Akademisi dan TNI Berjalan Bersama

Penelitian lapangan dan pendataan Biodiversity serta Etnobotani berakhir pada 10 September 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun TNI Angkatan Laut. Tim kemudian dilepas oleh Komandan Lanal Biak Kolonel Laut (P) Dexaseptian Burlis, S.E., M.Tr.Opsla. beserta jajaran Lanal Biak untuk kembali menuju Bandung dan melanjutkan penelitian melalui proses analisis di laboratorium. Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, terutama TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara.

Panglima Komando Armada Republik Indonesia, memberikan arahan kepada Lanal Biak untuk mendukung kegiatan ekspedisi tersebut. Dukungan itu diwujudkan melalui penyediaan sarana basecamp, kendaraan untuk mobilisasi personel, pengawasan, serta pendampingan personel TNI Angkatan Laut selama kegiatan lapangan.

Dukungan juga diberikan oleh Komando Daerah Udara III dan Landasan Udara Manuhua Biak di bawah pimpinan Komandan Lanud Marsekal Pertama TNI Rohmat Kusmayadi, S.Sos., M.Soc.Sc. Tim mendapatkan fasilitas perpindahan dari Biak menuju Bandung menggunakan pesawat Hercules. Bagi para mahasiswa yang terlibat, perjalanan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari mobilisasi, tetapi juga menjadi pengalaman langsung mengenai bagaimana sinergi antara dunia akademik dan institusi pertahanan dapat dibangun dalam sebuah kegiatan penelitian.

Menjaga Kedaulatan Melalui Ilmu Pengetahuan

Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 pada akhirnya membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar pendataan jenis tumbuhan. Kedaulatan sebuah negara tidak hanya berbicara tentang batas wilayah dan pertahanan teritorial. Kedaulatan juga dapat dibangun melalui kemampuan bangsa mengenali, mendokumentasikan, menjaga, dan mengembangkan kekayaan alam serta pengetahuan masyarakatnya sendiri. Di tengah tekanan terhadap ekosistem dan semakin cepatnya perubahan lingkungan, data mengenai keanekaragaman hayati menjadi semakin penting. Begitu pula dengan pengetahuan masyarakat lokal yang selama ini menjadi bagian dari cara mereka bertahan dan hidup berdampingan dengan alam. Karena itu, kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, peneliti, NGO, organisasi petualang, TNI, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi sebuah model kerja yang patut terus dikembangkan. Bukan untuk mengambil alam dari masyarakat, melainkan untuk memahami alam bersama masyarakat. Sebab, ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan pengetahuan lokal, konservasi bertemu dengan kebutuhan ekonomi, dan seluruhnya berjalan dalam semangat kolaborasi, maka menjaga ekosistem tidak lagi sekadar menjadi kewajiban ekologis. Ia dapat menjadi jalan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.

Dari Biak, sebuah pesan penting muncul: menjaga kedaulatan Indonesia juga berarti menjaga hutan, laut, keanekaragaman hayati, dan pengetahuan masyarakat yang hidup di dalamnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *